Manado – Kita perlu pahami karena sistem pemilu yang ada kali ini merupakan Pemilu tersulit di dunia, tentu sosialisasi perihal kertas suara tidak cukup hanya melalui media saja tetapi perlu masif hingga seluruh rakyat bisa paham cara memilih yang benar. Dan sosialisasi ini sebaiknya dilakukan semua pihak termasuk parpol dan caleg. Karena memiliki kepentingan yang sama agar masyarakat memilih dengan benar dan tidak golput.

“Apalagi bagi caleg yang tidak menggunakan foto di kertas suara, masyarakat yang bingung akhirnya hanya akan memilih gambar partai saja, dan tentunya caleg yang dirugikan. Caleg harus bersosialisasi secara detil,” tambah ML Denny Tewu, calon DPD RI 2019-2024 nomor urut 34 dapil Sulut.

KPU, lanjut Denny, harus juga mensosialisasikan cara memilih yang bisa hemat waktu, misalkan dianjurkan masyarakat sudah memiliki pilihan sejak dari rumah untuk kelima warna (hijau, biru, kuning, merah dan abu-abu), sehingga saat di TPS tidak bingung lagi mencari-cari nama di kertas suara yang besar. “Ada baiknya pemilih sudah mencatat di kertas  kecil sehingga saat pemilu ia sudah yakin memiliki pilihan atas ke lima kertas suara tersebut,” saran dia pula.

Bapak tiga anak ini menyatakan bahwa ia sudah melakukan sosialisasi dengan membuat kartu nama dan poster-poster yang memudahkan pemilih untuk memilihnya. Caleg lainnya ia lihat juga sudah melakukan hal yang sama, termasuk dua paslon capres. Dengan memiliki kartu nama dia masyarakat akan mudah memahami 5 kertas warna-warni dan menentukan 5 pilihan yang harus mereka siapkan di TPS nanti.

Namun ia katakan juga, di lapangan masih saja banyak  orang yang bingung, masih sulit membedakan antar caleg maupun DPD RI. Untuk itu semua pihak bertanggung jawab memberikan penjelasan agar seluruh masyarakat paham apa yang harus mereka lakukan saat di TPS nanti

“Umumnya masyarakat berminat memilih, hanya sayang kalau tidak memilih secara benar, misalnya dari 5 kertas suara mereka hanya memilih 2 atau 3 lembar kertas suara saja, yang tidak diisi tentunya dianggap golput, atau karena bingung akhirnya mereka hanya mencoblos partainya saja.  Walaupun hal ini dibenarkan tetapi tetap saja saya anggap tidak maksimal,” ujar Denny lagi yang berharap lebih dari 80% masyarakat menggunakan hak pilihnya.

Bawaslu perlu proaktif juga untuk mensosialisasikan cara memilih yang benar, harap mantan Ketua Umum PDS ini, termasuk sosialisasi tentang mana yang boleh maupun tidak boleh dilakukan oleh caleg dan tim suksesnya. Jangan hanya pasif menunggu undangan.

“Ada baiknya lebih sering melakukan kegiatan untuk sosialisasi. Kalau semua pihak berpikir untuk mensukseskan pemilu ini secara bertanggungjawab maka harapan kita 2019 ini Indonesia kembali mengukir sukses sebagai penyelenggara Pemilu tersulit di dunia secara Luber (Langsung umum bebas rahasia) dan Jurdil (Jujur adil),” tambah Ketua Umum Rukun Keluarga Besar Tewu/Tewuh ini pula. (Admin)